Pemberdayaan Perempuan Melalui Sociopreneurship

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengadakan kajian tentang perempuan sebagai tonggak pertumbuhan ekonomi. Pada kajian ini, pihak kementrian mengundang kelompok perempuan dalam berbagai bidang pekerjaan dan usia. Fokus dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak adalah menjalan kewirausahaan bagi perempuan dan bersifat sosial (sociopreneurship). Seperti yang kita tau, perempuan di Indonesia masih memiliki stigma seseorang yang tidak perlu bekerja namun wajib untuk berbakti di dalam rumah. Stigma tersebut lebih parah di daerah pedesaan. Perempuan disebutkan hanya memiliki tiga kewajiban yaitu “macak, manak, masak” (berhias, melahirkan, memasak). Stigma tersebut tumbuh kuat dimasyarakat bahkan hingga hari ini. Perempuan tidak diberikan kesetaraan dalam hal pekerjaan. Masih banyak anggapan tentang “pekerjaan laki-laki” dan “pekerjaan perempuan”.

Saat ini, masih banyak perempuan yang tidak memiliki pekerjaan. Rata-ratanya berada dalam kalangan masyarakat miskin. Ketidakmampuan dalam bekerja bukan karena dirinya sendiri tidak mampu, lebih kepada pandangan masyarakat yang membuat perempuan tidak mampu. Padahal jika diberikan kesempatan sama dengan laki-laki, perempuan dapat menjadi objek pembangunan ekonomi yang hebat. Kewirausahaan menjadi salah satu jalan yang diusulkan oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan system sociopreneurship.

Peran perempuan begitu banyak dalam kehidupan ini. Peran perempuan yang masih melekat hingga sekarang yaitu perempuan yang bekerja di rumah atau bisa dikatakan ibu rumah tangga. Perempuan yang bekerja masih menjadi hal yang sedikit tabu dalam masyarakat. Bahkan tidak sedikit judgement terhadap perempuan yang bekerja, yaitu perempuan yang bekerja adalah perempuan yang ingin menyaingi lelaki. Atau yang telah bersuami adalah menjadi perempuan yang tidak ingin kalah dengan suaminya. Perempuan dalam perspektif masyarakat masih berkisaran dengan pekerjaan domestik (pekerjaan rumah tangga). Sehingga, perempuan yang bekerja dianggap harus bisa menguasai waktu untuk pekerjaan di luar atau kita sebut dengan peran publik dan pekerjaan di rumah atau kita sebut dengan peran domestik.

Bekerja (pekerjaan publik) bukan merupakan hal wajib bagi perempuan karena tugas perempuan bukan untuk mencari nafkah. Namun, bekerja dan menghasilkan uang dapat membantu perekonomian keluarganya. Di sisi lain, bekerja bagi perempuan adalah ajang untuk membuktikan diri bahwa dia bisa juga sebagai cara untuk mengembangkan dirinya sendiri. Ada kepuasan tersendiri bagi perempuan yang bekerja, selain bisa mendapatkan uangnya sendiir, bekerja dapat menjadi prestige sendiri bagi perempuan karena dianggap sebagai perempuan mandiri. Hal ini akan terus berlanjut bahkan hingga perempuan telah berkeluarga.

Keluarga merupakan sesuatu hal yang penting untuk siapapun, termasuk perempuan. Dilematis seorang perempuan yang telah menikah dan mempunyai anak adalah keluarga. “Bagaimana aku bisa mengurus keluarga ku dengan baik ketika aku bekerja?” Pertanyaan itu sering keluar dari perempuan yang juga bekerja. Terkadang, perempuan yang bekerja menjadi bahan pembicaraan karena dianggap bukan merupakan istri dan ibu yang baik. Terlebih jika pekerjaan perempuan lebih layak daripada pekerjaan laki-laki. Perempuan juga mengalami dilematis bahwa dia juga ingin sepenuhnya di rumah untuk mengurus anak serta suaminya karena beban moral masyarakat yang membebankan bahwa pekerjaan domestik tersebut milik perempuan bukan milik laki-laki. Masalah itulah yang membuat banyak perempuan memilih untuk tidak bekerja (pekerjaan publik).

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak merumuskan konsep kewirausahaan sosial untuk memberdayakan perempuan yang tidak atau belum bekerja untuk ikut aktif peran serta dalam pembangunan ekonomi dengan melakukan produktivitas yang menghasilkan (pekerjaan publik). Membangun sebuah usaha dapat menjadi solusi untuk para perempuan karena mereka tetap dapat melakukan pekerjaan publik dan pekerjaan domestik dalam waktu yang bersamaan. Kajian ini mengumpulkan para pengusaha dan calon pengusaha perempuan untuk mendeskripsikan kemampuan mereka dalam mengembangkan usaha serta menjadikan usaha mereka berbasis sosial sehingga dapat merekrut perempuan disekitar mereka.

Pada beberapa peserta, konsep kewirausahaan sosial sudah masuk ke dalam usaha yang telah dijalankan. Salah satunya adalah peserta yang mau membagi pesanan produknya kepada tetangganya yang telah dijadikan mitra oleh peserta. Peserta memberikan pelatihan untuk orang-orang yang memang mau belajar dan kemudian dijadikan sebagai mitra kerja. Meski belum semuanya memiliki konsep kewirausahaan sosial, namun peserta siap untuk mengubah konsep usahanya tersebut mendekati kepada kewirausahaan sosial. Peserta juga telah memiliki konsep untuk mengembangkan usahanya untuk beberapa tahun ke depan dan telah dapat menganalisa apa saja hambatan-hambatan yang akan dihadapi dan kekuatan yang mereka miliki untuk tetap bertahan ditengah tantangan mereka.

Dukungan penuh akan diberikan oleh Kementerian kepada para peserta untuk melaksanakan konsep mereka dalam waktu dekat dan diharapkan membawa dampak perubahan terutama kepada kaum perempuan. Memberdayakan perempuan memang tidak mudah dengan adanya stigma yang tumbuh kuat di masyarakat tentang perempuan. Keinginan perempuan untuk maju menjadi salah satu motivasi untuk Kementrian melakukan kajian ini agar penyetaraan perempuan tidak hanya menjadi janji semata.

Kelompok pengusaha perempuan juga sangat ingin membantu perempuan lain dalam perbaikan perekonomian keluarga mereka. Banyaknya kasus kekerasan yang sering terjadi kepada perempuan dalam rumah tangga, dan umumnya mereka tidak ingin bercerai karena mereka tidak bekerja sehingga tidak mampu menghidupi dirinya sendiri. Kewirausahaan sosial dan memberdayakan perempuan diharapkan dapat meringankan masalah tersebut. Serta mulai mengikis pandangan terhadap perempuan yang hanya bisa melayani di rumah saja. Banyaknya perempuan yang mulai produktif juga dipercaya akan dapat meningkatkan pendapatan per kapita negara.

Bagaimana dengan konsep rumah tangga? Pada intinya, sebuah keluarga adalah tanggung jawab kedua pihak baik perempuan maupun laki-laki. Seharusnya baik pekerjaan domestik dan pekerjaan publik menjadi hak keduanya. Pekerjaan domestik menjadi tanggung jawab bersama, tidak hanya menjadi pekerjaan perempuan ataupun pekerjaan laki-laki. Masalah ekonomi dalam keluarga juga bukan merupakan tanggung jawab laki-laki namun juga perempuan. Kesetaraan gender diperlukan dalam membina rumah tangga sehingga stigma yang kuat terhadap perempuan bisa terkikis dan perempuan dapat dengan bebas melakukan pekerjaan publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *